“Hidup adalah sebuah keterpaksaan”
Saya sedikit setuju dengan kata-kata dalam judul di atas setelah apa yang saya alami selama ini. Namun jika boleh diubah sedikit, saya akan sangat setuju jika kalimatnya diganti menjadi “Hidup adalah seni untuk mengolah keterpaksaan”
Paksaan atau dalam bahasa Inggrisnya force, yang dalam Oxford dikatakan sebagai make (someone) do something against their will. Mungkin dapat juga diartikan kegiatan membuat seseorang untuk melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya.
Keterpaksaan mungkin bisa diartikan sebagai hal yang membuat manusia secara tidak ikhlas berpindah dari zona yang dianggapnya nyaman menuju ke zona yang dianggapnya mengancam. Definisi dari zona nyaman maupun tidak nyaman bagi tiap orang tentu berbeda-beda tergantung persepsi masing-masing.
Banyak orang bilang, sesuatu yang dilakukan karena keterpaksaan maka hasilnya tidak akan maksimal. Saya cenderung kurang setuju dengan pendapat tersebut, bagi saya itu namanya mengalah pada keterpaksaan bahkan sedikit banyak pendapat tersebut mengkambing-hitamkan keterpaksaan.
Kita bisa melawan keterpaksaan itu jika kita punya keinginan yang kuat. Dengan begitu tidak akan ada hasil akhir yang tidak maksimal karena kita sudah berusaha mengalahkan keterpaksaan dan bekerja keras demi mendapat hasil yang optimal.
Pernahkah anda merasakan keterpaksaan ketika akan melakukan suatu hal? Keterpaksaan kadang membawa kita kearah yang lebih baik. Sebuah study case misalnya, si A ditunjuk untuk menjadi pimpinan sidang. Maka pasti ada 2 kemungkinan, yaitu ia mau atau tidak mau. Dan ternyata si A menolak tawaran itu karena ia takut akan melakukan kesalahan dalam sidang nantinya, nah disinilah seharusnya keterpaksaan bekerja. Si A bisa memaksakan dirinya untuk berani menjadi pimpinan siding. Saat si A tidak melawan keterpaksaannya, maka ia tidak akan merasakan pengalaman menjadi pimpinan sidang dan duduk manis sebagai peserta. Sedangkan jika ia bisa melawan keterpaksaannya, maka ia akan tahu bagaimana rasanya memimpin sidang dan bisa mencari tahu bagaimana menjadi pemimpin sidang yang baik.
Itulah keterpaksaan, di dalamnya harus ada unsur – unsur sifat lain yaitu berani, belajar, dan tanggung jawab.
Kadang kita sering merasa terpaksa ketika kita ditempatkan ke posisi atau tempat yang tidak kita inginkan, namun sebenarnya hal itu dapat kita atasi dengan cukup mudah jika kita selalu punya keiniginan untuk belajar. Dimanapun kita berada, bukankah kita harus belajar dengan tempat tersebut ? adaptasi mungkin tepatnya. Dan juga saat kita melakukan kesalahan yang dikarenakan keterpaksaan itu tadi, maka kita tetap harus bertanggung jawab tanpa mengkambinghitamkan keterpaksaan itu sendiri.


I do what I like,
and I like what I do.
Join us:
http://groups.google.com/group/new-era-generation?hl=en
“Kalo aku berdoa minta diberi kekuatan, maka Dia memberiku beban untuk diangkat!”
Komentar oleh Sanji — Juli 7, 2009 @ 6:55 pm