BloG iaLaH RePresENtAsi KaTA

Juli 27, 2008

Le Grand Chef, film Korea apik!

Diarsipkan di bawah: Pilm2 Keren, Words are inspiring! — Tag:, , — fyiz @ 7:35 am

Le Grand Chef is a film about cooking. Yup, ini mah bisa ditebak dari judulnya ! Namun yang sulit untuk anda tebak ialah ceritanya. Memakai alur campuran film ini memang terkesan sedikit rumit namun tetap tersaji apik di tangan Yun-su Jeon. Film yang dirilis di Korsel pada 1 November 2007 ini memasang 3 peran utama yaitu Kim Kang-woo (Sung-chan), Lim Won-hie (Bong-joo) dan Lee Ha-na (Jin su). Film yang punya judul lain SikGaek ini kabarnya diangkat dari komik populer. Sebelum melanjutkan membaca postingan ini, perlu saya ingatkan bahwa dalam tulisan ini akan dipaparkan detail tentang salah satu cerita dalam film, jadi jika anda tidak ingin tahu sebelum nonton maka harap jangan diteruskan.

Tentang ceritanya sendiri, Sung-chan dan Bong-joo ialah rival dalam dunia kuliner.   Namun Sung-chan sudah lama memilih untuk mundur karena sebuah kecelakaan yg menyebabkan orang keracunan masakannya, saat ia bersekolah di Woonam-jung. Namun Sung-chan dan Bong-joo akhirnya bersaing kembali dalam sebuah kompetisi memasak untuk memperebutkan posisi bergengsi.

Uniknya film ini ialah konflik yang terkandung di dalamnya. Ok, Fyiz cerita aja pengalaman Fyiz yang baru liat pilm ini tadi malem.

Pertama kali liat, Fyiz kira film ini berseting jaman dahulu seperti pada covernya, namun ternyata saya salah besar. Setting cerita ialah kehidupan Korea modern, bukan seperti pada serial Djanggeum yg dengan tema sama dan mengambil setting masa lampau. Memang, nantinya kita akan dibawa flashback namun kehidupan masa lalu yg ditampilkan hanya sebagai puzzle misteri yang mengungkapkan keutuhan cerita.

Persepsi awal saya, film ini akan membuat saya terfokus pada lezatnya masakan buatan Sung-chan. Namun, konflik rupanya lebih menarik perhatian saya dan memaksa kelenjar air mata saya bekerja lebih keras. Yup…banyak scene atau tepatnya hal yang membuat saya menangis saat melihatnya. Salah satunya ialah saat Sung-chan sampai pada babak kompetisi pembuatan arang. Ada tokoh lain yang meskipun bukan peran utama namun saya yakin tokoh ini akan member kita banyak pelajaran hidup. Tokoh itu bernama Han, dia adalah narapidana yang divonis mati. Orang inilah yang dicari Sung-chan karena dia ialah pembuat arang terbaik namun orang ini keras hati dan menolak permintaan Sung-chan. Di sisi lain, rupanya Bong-joo yang patut saya beri nilai 10 untuk tampang jahatnya,juga mengetahui tentang kehebatan Han. Maka dengan sifat penjilatnya ia mencoba mengorek rahasia membuat arang dari Han. Namun Han tetap saja bungkam, hingga suatu saat Sung-chan bertemu dengan ibu Han dan beliau bercerita tentang masa lalu Han yg kelam.

Ini bagian yang menarik, simak ya….

Han terpisah oleh ibunya sejak kecil karena neneknya memaksa ibunya menikah dengan orang lain dan  meninggalkan Han. Suatu hari Han pergi ke rumah ibunya dan menemukan ubi di dapur, Han yg kelaparan pun makan ubi itu dengan lahapnya. Namun, suami ibunya atau sang pemilik rumah menemukan dia dan memukulinya karena menuduhnya mencuri. Sang ibu tidak tega melihat Han dipukuli, maka ia segera mengusirnya.

Son…Is anyone feeding you? Stop coming here, Because I’m.. I’m not your mom any longer..

inilah kata2 yg diucapkan si ibu saat Han pergi sambil menangis. Han sangat sedih, ia berlari sambil terus menangis.Disini juga diceritakan bahwa untuk menemui ibunya, Han harus menempuh 4 jam perjalanan dengan berjalan kaki.

Kemudian, Sung-chan mengirimkan bungkusan makanan berisi ubi ke penjara. Han yang memakannya pun menangis mengingat masa lalunya.

Kemudian Han mengirim surat yang intinya mengatakan terima kasih  kepada Sung-chan dan ia bersedia membantunya membuat arang terbaik di Korea. Ini isi surat Han tersebut.

The happiest time in my life was when I made charcoal.

Although the hot fire slowly blinded me. It didn’t matter, ‘Cuz the one I wanted to see was always there in the flames.

Thank you, Sung-chan.

Your sweet potatoes melted away my resentment towards my mom.

There is a tree near where my mom’s house used to be. It’s the most suitable wood I know of.

The beautiful flames will turn it into the best charcoal.

I wish you luck.

Nah, itu tadi bagian menarik pertama. Sungguh ironis dan tragis menurut saya.Kisah seorang anak dan ibunya yang saya rasa jika setiap orang melihatnya maka ia pasti akan terenyuh.

Kemudian ada lagi bagian kedua yang juga gak kalah sedihnya. Yaitu saat Cung-chan kehilangan sapi kesayangannya.

Dalam cerita, di babak terakhir ada kompetisi Beef Carving, dan tiap kontestan diharuskan membawa sendiri sapi terbaik untuk digunakan dalam babak ini. Sung-chan telah menjelajahi semua pasar untuk mencari sapi ideal, namun ia tak kunjung menemukan karena sapi terbaik sebenarnya sudah ia miliki, yaitu peliharaannya yang sangat ia sayangi. Disebutkan bahwa sapi Sung-chan ialah barang satu2nya yang ia bawa setelah meninggalkan Woonam-jung, maka sapi itu sudah menjadi bagian keluarganya.

You’re the first thing I bought after leaving Woonam-jung. I needed someone to keep me company back then.

Itulah yang dikatakan Sung-chan saat kemudian ia memutuskan untuk membawa sapinya ke kompetisi.

I promise you. Your sacrifice won’t be in vain.

Itulah yang dikatakan Sung-chan saat akan memulai Beef Carving.

Hmmm…sebenarnya banyak sekali hal2 menarik lain dalam film ini, hal2 yang bisa membuat kita untuk belajar tentang hidup. Le Grand Chef ialah sebuah film yang menarik tentang kehidupan dan juga dipenuhi dengan intrik dalam perebutan kekuasaan.

Saya patut menghadiahkan jempol untuk acting para pemain di film ini, untuk Sung-chan yang brilian, untuk Bong-juu yang sangat, sangat antagonis, untuk kakek Sung-chan, untuk Han, dan untuk seluruh pemain film. Nilai 10 untuk Le Grand Chef,  perfect!

Juli 19, 2008

Cengeng…part of me..

Diarsipkan di bawah: Cerita Gak Jelas,, — fyiz @ 5:45 am

Cengeng, wah ini jelas dan sangat saya sadari. Entah apakah saya akan dikelompokkan oleh orang-orang psikologi dalam kategori melankolis, mungkin iya. Saya rasa sifat ini sudah ada sejak kecil, semenjak lahir tentunya (saat lahir kan bayi pasti nangis ya?). Tapi kenapa sifat ini bisa nangkring hingga saya segede ini ya? Ah…saya tidak tau pasti mengapa. Tapi yang jelas kelenjar air mata saya memang sangat aktif melakukan tugasnya. Saat menonton sebuah tayangan yang sedikit menggugah hati, seperti dorama Jepang dan Korea, maka saya tidak sungkan untuk menangis. Wah..kalo ini sih saya gak bakalan merasa malu karena saya selalu menontonnya sendirian. Tapi celakanya akhir2 ini sedikit sering saya menangis di depan umum, contohnya di depan angkatan saya. Saya memang cenderung gak betah menahan sifat saya ini jika saya sudah emosi dan muak dengan keadaan yg memprihatinkan. Bahkan terakhir, saya menangis di depan khalayak rapat, waduh ! kalo yang ini bener2 gawat, memang waktu itu ada sedikit kontemplasi yang membuat suasana di sekitar saya panas dan terjadi gontok2an antar teman dan saya tidak betah melihat yg seperti itu, ughhh…saat itu saya hanya berpikir agar kontemplasinya cepat selesai karena saya sadar bahwa saya akan menangis membayangkan hal itu benar2 akan terjadi.

Namun, untuk sifat saya yang satu ini saya cukup memberikan toleransi, alias gak menyembunyikannya. Bagi saya, menangis itu manusiawi, maka jika ingin menangis ya silahkan nangis. Malah bagi saya jika ada cowok nangis, itu berarti keren. Hmm.. adakah yang menganggap hal ini aneh? Bagi saya tidak sama sekali, asalkan cowok itu menangis dengan alasan yang jelas, justru menandakan bahwa dia orang yang jujur sekaligus manusiawi.

Namun, kadang saya juga pengen ngilangin sifat cengeng saya ini, gak tau kenapa, pokoknya pengen dikurangin lha.

GOOGLE is Everything…

Diarsipkan di bawah: Good Info — fyiz @ 5:43 am

GOOGLE is Everything…

Hey…ini bukan promosi, Cuma sekedar sharing experience. Yup…tentang Google, sebuah search engine yg telah menjadi favorit saya selama 2 tahun terakhir. Entah, tidak jelas kapan pertama kali saya mengenal Google, namun yang penting, saya sudah mendapat banyak hal dari Google.

Google is everything, bagi saya tidak berlebihan. Karena apa?

1. *Nyari apa aja ada

Sebuah hal yang sedikit lucu bagi saya ketika mengetikan nama saya di kolom pencarian dan berakhir di list penerimaan mahasiswa baru di situs SPMB, dan akhirnya bukan hanya nama saya saja yang saya cari, bahkan saat saya ingin mengetahui informasi lebih dari seseorang yang (ehem !) saya sukai maka saya akan mencarinya di Google, yah…meskipun akhirnya hanya asal sekolahnya saja yg saya temukan, tapi its okay lha.

Dan juga saat dulu saat saya ingin download soundtrack film favorit saya, maka dengan berbekal Google saja saya bahkan menemukan sebuah situs yg memberi saya puluhan soundtrack gratis yaitu www.esnips.com, sampe sekarang pun, saya masih sering download di Esnips, yah…biarpun sudah byk lagu yg gak gratis lagi.

Gak cumin itu, waktu saya lagi patah hati (ceile..), maka dengan mengetikkan sebuah keyword saja, maka saya serasa dapat temen curhat di blog.

Bahkan (lagi), saat sedang ujian dan bingung jawaban, saya tinggal googling aja di kelas dan tertemukanlah jawabannya…

Dan Google lah tempat saya menemukan semuanya dengan gratis, termasuk situs yg nyediain e-book secara free, dan akhirnya bisa baca Laskar Pelangi dengan gratis deh.

2 *Email saya Gmail

Dulu saya pake Y***o sebagai permanent mail saya, tapi ribet dan banyak spamnya juga. Akhirnya berkat rekomendasi teman maka saya mengenal Gmail dan langsung jatuh hati. Sekarang, senangnya bisa cek email tiap hari dengan murah dan gampang. Tinggal download aplikasi Gmail Mobile aja, Email saya di Gmail pun namanya lebih simple, karena belum banyak yg pake…jadi terkesan ekslusif degh

3. *Paling cepet koneksinya

Buka www.google.com jelas lebih cepet dari yg laen karena web page nya simple, secara cumin search engine doang. Coba kalo anda lagi ngecek koneksi internet di cmd (yg pake DOS) pasti lebih milih ping www.google.com daripada ping www.friendster.com

4. *Dan laen-laen

Wah…sebenernya banyak keuntungan lain yg bisa anda dapat dari Google, karena bagi saya apapun ada di Google, apalagi ilmu dan sharing experience.

Jadi selamat ber-googling ya………

Beli Buku, NO!

Diarsipkan di bawah: Cerita Gak Jelas,, — fyiz @ 5:33 am

Beli buku, NO !

Saya orang yang paling males ngeluarin duit jika buat beli buku, terutama semacam novel dan bacaan2 lainnya. Bagi saya itu hal yang bisa saya dapatkan secara gratis di internet. Saya sering melihat teman saya merogoh dompet dan menebus sebuah novel dengan sepuluh lembar 10ribuan. 60 ribu? Hmmm…koq saya jadi merasa eman ya, bagi saya uang segitu lebih baik digunakan untuk keperluan lain daripada untuk membeli sebuah buku yg saya yakin setelah saya baca habis, maka ia akan tergeletak begitu saja. Saya ialah tipe2 orang yg akan dengan cepat menghabiskan bacaannya dalam waktu singkat, karena jika saya penasaran, maka tidak perlu waktu lama untuk menuntaskan buku itu. Mungkin saya cenderung tipe peminjam buku ya? Tapi bukan, yang benar ialah saya tipe pen-download buku. Jika teman saya mendapat novel dari toko buku maka saya mendapatkan filenya di sebuah situs penyedia free e-book.

Hmmm…dan tentu selanjutnya saya tidak akan membaca file lewat layar monitor ataupun mengeprintnya. Yang saya lakukan ialah mengubahnya menjadi ber-ekstensi .doc dan memindahnya ke hape saya dan selanjutnya akan say abaca hingga mata saya bertambah minusnya. Dibawah ini ada rujukan situs yg cukup keren

www.esnips.comwww.4shared.com

Juli 18, 2008

Ngga Ada Noda, Ya Ngga Belajar !

Diarsipkan di bawah: Words are inspiring! — fyiz @ 8:06 am

Saya jadi teringat jargon iklan Rinso yang tentunya sudah sering anda dengar.
“Nggak ada noda ya nggak belajar”


Jika dicermati memang simple ya ? Namun menurut saya, jargon itu sudah sangat cukup merepresentasikan tentang kehidupan.
Logikanya seperti ini, saat anak kecil gak pernah kena noda atau misalnya dia menghindari semua hal yg dapat membuat dirinya kotor sehingga si anak tidak pernah melakukan hal yang sedikit menantang. Konkritnya mungkin seperti ini,  Budi tidak mau berlatih sepak bola bersama teman2nya karena takut bajunya terkotori lumpur. Dibandingkan dengan temannya yang lain, baju Budi memang masih kinclong sehingga tidak perlu repot2 mencucinya, tapi apa? Budi menerima konsekuensi dari pilihannya untuk tidak mengotori bajunya yaitu tertinggal dari teman2nya yang sudah mahir bermain bola.
Bukankah hal itu sama dengan kehidupan? Saat seseorang takut akan resiko atau hal2 yang dapat membuat dia tak lagi berada di zona nyaman maka dia pun akan cenderung menghindarinya, sama seperti Budi yang memilih tidak berlatih sepak bola karena takut kotor.
Namun apakah kita harus selalu menetap dan terkungkung di zona nyaman kita? Sebelum pertanyaan tersebut sedikit terjawab saya jadi teringat  selain kata2 “Nggak ada noda ya nggak belajar” ternyata juga ada kata2 lain yang juga sangat bermakna dalam iklan Rinso itu, yaitu “ Kotor itu baik”.
Mungkin, ada beberapa orang yang langsung mengernyitkan dahi, karena mungkin kata2 “Kotor itu baik” bagaikan semacam paradoks yang unik. Bukankah biasanya yang kotor itu jelek? Bagaimana mungkin yang kotor itu baik?
Yup..kembali lagi pada esensi dari kotor dalam iklan itu. Kotor disini sama dengan sebuah kesalahan yang dibuat oleh manusia. Dan apakah semua kesalahan itu buruk?

Bagi saya jawabannya ialah tidak, bahkan menurut saya, salah itu ialah sebuah kebaikan. Salah merupakan sebuah proses pembelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan. Dengan terjadi kesalahan maka seseorang akan belajar untuk menjadi benar. Dan memang, salah itu resiko. Sama seperti kotor. Resiko dimarahin, dibentak-bentak, dan hal2 menyebalkan lainnya. Namun itu hanyalah sedikit hal yang akan kita dapat, lebih dari itu kita akan mendapatkan sebuah pengalaman yang sangat berharga dalam hidup, pengalaman yang nantinya dapat membuat kita menjadi lebih baik, pengalaman yang tidak akan kita dapatkan ketika kita menghindari yang namanya salah. Maka untuk itu, kita harus berani  tanggung jawab atas resiko kesalahan yang telah kita perbuat.
Yup…intinya tetap berusaha yg terbaik namun jika hasilnya kurang sesuai, itu adalah pembelajaran paling baik dalam hidup kita.
Jadi, jangan takut salah karena salah itu baik.

Blog pada WordPress.com.