Le Grand Chef is a film about cooking. Yup, ini mah bisa ditebak dari judulnya ! Namun yang sulit untuk anda tebak ialah ceritanya. Memakai alur campuran film ini memang terkesan sedikit rumit namun tetap tersaji apik di tangan Yun-su Jeon. Film yang dirilis di Korsel pada 1 November 2007 ini memasang 3 peran utama yaitu Kim Kang-woo (Sung-chan), Lim Won-hie (Bong-joo) dan Lee Ha-na (Jin su). Film yang punya judul lain SikGaek ini kabarnya diangkat dari komik populer. Sebelum melanjutkan membaca postingan ini, perlu saya ingatkan bahwa dalam tulisan ini akan dipaparkan detail tentang salah satu cerita dalam film, jadi jika anda tidak ingin tahu sebelum nonton maka harap jangan diteruskan.
Tentang ceritanya sendiri, Sung-chan dan Bong-joo ialah rival dalam dunia kuliner.
Namun Sung-chan sudah lama memilih untuk mundur karena sebuah kecelakaan yg menyebabkan orang keracunan masakannya, saat ia bersekolah di Woonam-jung. Namun Sung-chan dan Bong-joo akhirnya bersaing kembali dalam sebuah kompetisi memasak untuk memperebutkan posisi bergengsi.
Uniknya film ini ialah konflik yang terkandung di dalamnya. Ok, Fyiz cerita aja pengalaman Fyiz yang baru liat pilm ini tadi malem.
Pertama kali liat, Fyiz kira film ini berseting jaman dahulu seperti pada covernya, namun ternyata saya salah besar. Setting cerita ialah kehidupan Korea modern, bukan seperti pada serial Djanggeum yg dengan tema sama dan mengambil setting masa lampau. Memang, nantinya kita akan dibawa flashback namun kehidupan masa lalu yg ditampilkan hanya sebagai puzzle misteri yang mengungkapkan keutuhan cerita.
Persepsi awal saya, film ini akan membuat saya terfokus pada lezatnya masakan buatan Sung-chan. Namun, konflik rupanya lebih menarik perhatian saya dan memaksa kelenjar air mata saya bekerja lebih keras. Yup…banyak scene atau tepatnya hal yang membuat saya menangis saat melihatnya. Salah satunya ialah saat Sung-chan sampai pada babak kompetisi pembuatan arang. Ada tokoh lain yang meskipun bukan peran utama namun saya yakin tokoh ini akan member kita banyak pelajaran hidup. Tokoh itu bernama Han, dia adalah narapidana yang divonis mati. Orang inilah yang dicari Sung-chan karena dia ialah pembuat arang terbaik namun orang ini keras hati dan menolak permintaan Sung-chan. Di sisi lain, rupanya Bong-joo yang patut saya beri nilai 10 untuk tampang jahatnya,juga mengetahui tentang kehebatan Han. Maka dengan sifat penjilatnya ia mencoba mengorek rahasia membuat arang dari Han. Namun Han tetap saja bungkam, hingga suatu saat Sung-chan bertemu dengan ibu Han dan beliau bercerita tentang masa lalu Han yg kelam.
Ini bagian yang menarik, simak ya….
Han terpisah oleh ibunya sejak kecil karena neneknya memaksa ibunya menikah dengan orang lain dan meninggalkan Han. Suatu hari Han pergi ke rumah ibunya dan menemukan ubi di dapur, Han yg kelaparan pun makan ubi itu dengan lahapnya. Namun, suami ibunya atau sang pemilik rumah menemukan dia dan memukulinya karena menuduhnya mencuri. Sang ibu tidak tega melihat Han dipukuli, maka ia segera mengusirnya.
Son…Is anyone feeding you? Stop coming here, Because I’m.. I’m not your mom any longer..

inilah kata2 yg diucapkan si ibu saat Han pergi sambil menangis. Han sangat sedih, ia berlari sambil terus menangis.Disini juga diceritakan bahwa untuk menemui ibunya, Han harus menempuh 4 jam perjalanan dengan berjalan kaki.
Kemudian, Sung-chan mengirimkan bungkusan makanan berisi ubi ke penjara. Han yang memakannya pun menangis mengingat masa lalunya.
Kemudian Han mengirim surat yang intinya mengatakan terima kasih kepada Sung-chan dan ia bersedia membantunya membuat arang terbaik di Korea. Ini isi surat Han tersebut.
The happiest time in my life was when I made charcoal.
Although the hot fire slowly blinded me. It didn’t matter, ‘Cuz the one I wanted to see was always there in the flames.
Thank you, Sung-chan.
Your sweet potatoes melted away my resentment towards my mom.
There is a tree near where my mom’s house used to be. It’s the most suitable wood I know of.
The beautiful flames will turn it into the best charcoal.
I wish you luck.

Nah, itu tadi bagian menarik pertama. Sungguh ironis dan tragis menurut saya.Kisah seorang anak dan ibunya yang saya rasa jika setiap orang melihatnya maka ia pasti akan terenyuh.
Kemudian ada lagi bagian kedua yang juga gak kalah sedihnya. Yaitu saat Cung-chan kehilangan sapi kesayangannya.
Dalam cerita, di babak terakhir ada kompetisi Beef Carving, dan tiap kontestan diharuskan membawa sendiri sapi terbaik untuk digunakan dalam babak ini. Sung-chan telah menjelajahi semua pasar untuk mencari sapi ideal, namun ia tak kunjung menemukan karena sapi terbaik sebenarnya sudah ia miliki, yaitu peliharaannya yang sangat ia sayangi. Disebutkan bahwa sapi Sung-chan ialah barang satu2nya yang ia bawa setelah meninggalkan Woonam-jung, maka sapi itu sudah menjadi bagian keluarganya. 
You’re the first thing I bought after leaving Woonam-jung. I needed someone to keep me company back then.
Itulah yang dikatakan Sung-chan saat kemudian ia memutuskan untuk membawa sapinya ke kompetisi.
I promise you. Your sacrifice won’t be in vain.

Itulah yang dikatakan Sung-chan saat akan memulai Beef Carving.
Hmmm…sebenarnya banyak sekali hal2 menarik lain dalam film ini, hal2 yang bisa membuat kita untuk belajar tentang hidup. Le Grand Chef ialah sebuah film yang menarik tentang kehidupan dan juga dipenuhi dengan intrik dalam perebutan kekuasaan.
Saya patut menghadiahkan jempol untuk acting para pemain di film ini, untuk Sung-chan yang brilian, untuk Bong-juu yang sangat, sangat antagonis, untuk kakek Sung-chan, untuk Han, dan untuk seluruh pemain film. Nilai 10 untuk Le Grand Chef, perfect!

